banner 728x250

Di Antara Sunyi Sumur Tua Wonocolo, Dua Narasi Mengemuka—Publik Menanti Kejujuran Data

Time.i-news.site/ Bojonegoro — Riuh kabar tentang pengelolaan minyak sumur tua di Desa Wonocolo, Kecamatan Kedewan, kini menyisakan keganjilan yang sulit diabaikan. Dua narasi berbeda beredar di ruang publik—masing-masing membawa klaim yang tak sejalan, namun sama-sama menyangkut hajat hidup masyarakat penambang.

Di satu sisi, muncul informasi bahwa distribusi minyak mengalami hambatan, bahkan dikaitkan dengan dugaan maraknya praktik penyulingan ilegal. Gambaran ini diperkuat oleh kesaksian warga yang menyebut aktivitas lapangan tengah melambat.

“Setiap hari hasilnya turun. Banyak truk tangki sekarang hanya parkir,” ujar seorang warga.

Namun di sisi lain, suara berbeda datang dari perwakilan kelompok penambang. Mereka menyebut proses penyerapan minyak masih berjalan, bahkan dinilai memberi kepastian bagi para penambang rakyat.

“Kami tidak keberatan dengan harga yang disepakati. Justru ada kepastian penyerapan hasil produksi,” kata salah satu perwakilan.

Dua pernyataan yang kontras ini menempatkan publik pada ruang abu-abu: antara kekhawatiran dan keyakinan, antara dugaan hambatan dan klaim kelancaran. Dalam situasi seperti ini, diam bukanlah pilihan yang bijak.

Transparansi menjadi kata kunci. Data produksi, volume pengiriman, serta mekanisme distribusi perlu disampaikan secara terbuka oleh pihak terkait, termasuk PT Bojonegoro Bangun Sarana (BBS) dan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro. Tanpa itu, ruang spekulasi akan terus melebar.

Lebih jauh, jika memang terdapat aktivitas di luar ketentuan, penanganannya juga perlu dijelaskan secara proporsional dan berbasis fakta. Sebaliknya, jika distribusi berjalan normal, publik berhak melihat bukti yang terukur, bukan sekadar narasi.

Wonocolo bukan sekadar titik produksi—ia adalah ruang hidup bagi banyak keluarga yang menggantungkan harapan pada sumur tua. Ketika informasi simpang siur, yang dipertaruhkan bukan hanya kepercayaan, tetapi juga keberlanjutan ekonomi warga.

Hingga laporan ini disusun, pihak PT Bojonegoro Bangun Sarana (BBS) belum memberikan keterangan resmi. Publik kini menunggu, bukan sekadar jawaban, tetapi kejelasan yang utuh dan dapat dipertanggungjawabkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *