banner 728x250

Diduga Telur Puyuh Kurang Matang di Hari Pertama MBG Ramadan, Siswa TK di Bojonegoro Alami Muntah

 

Time.i-news.site/, BOJONEGORO – Seorang siswa taman kanak-kanak (TK) di Kota Bojonegoro dilaporkan mengalami muntah dan lemas setelah mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG) pada hari pertama pelaksanaan program selama Ramadan, Selasa (24/2/2026).

Wali murid yang enggan disebutkan namanya menuturkan, anaknya mulai muntah sekitar satu jam setelah menyantap telur puyuh rebus yang menjadi bagian dari menu MBG. Dalam satu wadah mika, terdapat empat butir telur puyuh yang telah dikupas sendiri oleh sang anak sebelum dimakan.

“Awalnya anak saya makan karena telurnya dikupas sendiri. Setelah dikunyah, dia bilang telurnya bau dan lembek. Saya langsung melarang menghabiskan sisanya. Sekitar satu jam kemudian, anak saya muntah sampai lima kali,” ujarnya.

Mengetahui kondisi tersebut, orang tua segera memberikan pertolongan pertama berupa obat dan melaporkan kejadian itu kepada pihak sekolah tempat pembagian MBG berlangsung. Pada sore harinya, pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) disebut sempat mendatangi rumah siswa untuk menyampaikan permohonan maaf sekaligus klarifikasi.

Pihak SPPG Sumbang melalui Kepala SPPG, Sela, membenarkan adanya keluhan dari wali murid dan menyatakan telah melakukan konfirmasi langsung serta menjenguk siswa yang bersangkutan. Ia memastikan kondisi anak tersebut kini telah membaik.

“Setelah kami konfirmasi dan menjenguk, kondisinya sudah baik. Orang tua juga sempat mengecek makanan sebelumnya. Namun karena anak kecil, tetap dimakan. Saat itu kondisinya juga kurang fit dan kemudian muntah. Setelah diberi Lacto B, Alhamdulillah sudah aman,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa dugaan penyebab bukan karena makanan basi, melainkan tingkat kematangan telur puyuh yang dinilai kurang sempurna saat proses pemasakan.

“Bukan basi, tetapi kemungkinan tingkat kematangannya kurang sempurna,” tegasnya.

Menurutnya, ukuran telur puyuh yang kecil serta jumlah muatan dalam satu kali proses perebusan menjadi faktor yang menyulitkan pengecekan satu per satu. Dalam satu steamer, sebelumnya diisi hingga 12 loyang, sehingga panas diduga tidak merata, terutama pada bagian bawah, yang berpotensi menyebabkan sebagian telur kurang matang.

Sebagai langkah tindak lanjut, pihak SPPG mengaku telah melakukan evaluasi internal terhadap tim dapur dan menyesuaikan prosedur pemasakan. Jumlah loyang dalam satu kali perebusan kini dikurangi menjadi 10 agar distribusi panas lebih merata. Selain itu, telur yang dilaporkan bermasalah langsung diganti pada hari yang sama setelah adanya komplain dari sekolah.

“Kami sudah melakukan perebusan ulang dan menambah durasi pemasakan beberapa menit. Ini menjadi evaluasi agar kejadian serupa tidak terulang,” imbuhnya.

SPPG juga memastikan bahwa standar keamanan pengolahan makanan tetap mengacu pada prosedur yang berlaku. Estimasi waktu dari proses pemasakan hingga distribusi yang mencapai sekitar tiga jam dinilai masih dalam batas aman untuk konsumsi, dengan catatan tingkat kematangan telah sesuai.

Kejadian ini menjadi perhatian sebagai bahan evaluasi pelaksanaan program MBG, khususnya dalam menjaga kualitas dan keamanan makanan yang dikonsumsi peserta didik, terutama anak usia dini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *