banner 728x250
Daerah  

Sunyi di Balik Kamar Hotel Rimbun Canggu: Kematian WNA Wanita Tahun 2025 yang Nyaris Hilang dari Ingatan Publik

Badung – Di sebuah kamar hotel di kawasan wisata Canggu, pada suatu waktu di tahun 2025, seorang perempuan warga negara asing ditemukan tak lagi bernapas. Peristiwa itu terjadi dalam sunyi. Tanpa hiruk-pikuk pemberitaan. Tanpa riuh penjelasan kepada publik.

Padahal Canggu bukanlah tempat yang asing dengan sorotan. Setiap denyut kehidupan di kawasan wisata internasional itu hampir selalu cepat menyebar—terutama jika melibatkan wisatawan asing. Namun kematian seorang bule wanita di Hotel Rimbun Pipitan justru seperti kabut pagi: muncul sejenak, lalu menghilang tanpa jejak yang jelas.

Informasi yang dihimpun awak media menyebutkan, peristiwa itu diketahui ketika waktu check-out tiba. Pihak hotel mencoba memanggil tamu yang menginap di salah satu kamar tersebut, namun tidak ada jawaban dari balik pintu. Setelah pintu dibuka, perempuan itu ditemukan telah meninggal dunia.

“Waktu kamar dibuka, tamu itu sudah meninggal. Lehernya seperti terjerat kain atau handuk,” ujar seorang staf hotel, mengingat cerita yang beredar di antara para pekerja.

Keterangan singkat itu memunculkan dugaan awal mengenai kemungkinan bunuh diri. Namun hingga kini, tak pernah terdengar penjelasan resmi yang memaparkan secara terang apa yang sebenarnya terjadi di kamar itu.

Awak media mencoba menelusuri jejak peristiwa tersebut dengan menghubungi aparat kepolisian. Seorang anggota Polsek Kuta Utara membenarkan bahwa kejadian tersebut memang pernah terjadi pada tahun 2025.

“Memang ada kejadian itu. Untuk detailnya silakan konfirmasi ke Polres Badung,” ujarnya singkat.

Jawaban itu meninggalkan ruang kosong. Ruang yang kemudian diisi oleh berbagai pertanyaan.

Di tengah masyarakat sekitar Canggu, cerita tentang kematian itu sesekali muncul kembali seperti bisik-bisik yang tak pernah benar-benar selesai.

“Biasanya kalau ada turis meninggal di Bali, cepat sekali terdengar. Tapi yang ini seperti tidak pernah ada kabarnya,” kata seorang warga yang meminta namanya tidak disebutkan.

Di lapangan, informasi lain juga berkembang. Disebutkan bahwa hotel tempat peristiwa itu terjadi berdiri di atas tanah yang berkaitan dengan pelaba pura dalem setempat. Sementara pengelolanya disebut bernama Jro Mangku Sudiana.

Penelusuran awak media juga menemukan informasi bahwa anak dari pengelola hotel tersebut diketahui merupakan seorang anggota legislatif di Kabupaten Badung, yakni I Made Suryananda Pramana.

Keterkaitan sejumlah informasi tersebut membuat sebagian masyarakat berharap agar kasus ini tidak berhenti sebagai cerita samar di balik dinding kamar hotel.

Bagi banyak orang, kematian—terlebih yang melibatkan warga negara asing di daerah tujuan wisata dunia seperti Bali—bukan sekadar peristiwa pribadi. Ia juga menyangkut transparansi, kepercayaan publik, dan kepastian bahwa setiap kejadian ditangani secara terang oleh aparat penegak hukum.

Hingga berita ini diturunkan, awak media masih terus berupaya mencari kepastian: apa yang sebenarnya terjadi di kamar hotel itu pada tahun 2025.

Sebab sampai hari ini, kematian perempuan asing di Hotel Rimbun Pipitan Canggu masih menyisakan satu hal yang belum terjawab—sunyi yang terlalu panjang untuk sebuah peristiwa kematian.

Catatan Redaksi:

Media ini menjunjung tinggi asas praduga tak bersalah serta membuka ruang hak jawab bagi semua pihak sesuai Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *