banner 728x250

Komplek Makam Sunan Gunung Jati Dipadati Peziarah Sejak 21 Desember, Keluarga Kraton Kasepuhan: Tradisi Spiritual yang Terus Terjaga

Komplek Makam Sunan Gunung Jati Dipadati Peziarah Sejak 21 Desember

CIREBON, Jawa Barat — Arus peziarah terus memadati Komplek Makam Syekh Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) yang berada di Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, sejak 21 Desember 2025 hingga saat ini. Ribuan peziarah dari berbagai daerah di Indonesia silih berganti datang untuk melaksanakan ziarah, doa bersama, serta memperkuat ikatan spiritual di salah satu situs religi paling bersejarah di Nusantara.

Pantauan di lokasi menunjukkan kepadatan pengunjung terjadi hampir sepanjang hari, terutama pada pagi hingga malam hari. Para peziarah berasal dari beragam latar belakang, mulai dari masyarakat umum, rombongan majelis taklim, pesantren, hingga keluarga besar dari luar Pulau Jawa. Mereka datang menggunakan bus pariwisata, kendaraan pribadi, maupun transportasi umum.

Aktivitas ziarah yang dilakukan meliputi pembacaan tahlil, doa, tawasul, serta zikir yang dipimpin oleh tokoh agama atau sesepuh rombongan masing-masing. Meskipun jumlah peziarah terus meningkat, suasana di dalam kompleks makam tetap terjaga khidmat dan tertib berkat pengaturan dari petugas keamanan, juru kunci makam, serta aparat setempat.

Komplek Makam Sunan Gunung Jati Dipadati Peziarah Sejak 21 Desember 2025
Komplek Makam Sunan Gunung Jati Dipadati Peziarah Sejak 21 Desember 2025

Salah satu saksi dari keluarga besar Kraton Kasepuhan Cirebon, Raden Irfan Adji Arkaningrat yang sedang berziarah ke makam kakeknya yang bernama alm.Pangeran basmudin adji arkaningrat bin pangeran nur agung, menyampaikan bahwa lonjakan peziarah seperti ini merupakan fenomena yang sudah berlangsung turun-temurun, terutama menjelang akhir tahun dan momentum tertentu dalam kalender keagamaan.

“Ziarah ke Makam Sunan Gunung Jati bukan sekadar tradisi, tetapi bentuk penghormatan kepada leluhur dan ulama besar yang berjasa menyebarkan Islam di tanah Jawa. Ramainya peziarah sejak 21 Desember ini menunjukkan bahwa nilai spiritual dan sejarah Sunan Gunung Jati masih sangat hidup di tengah masyarakat,” ujar Raden Irfan Adji Arkaningrat, saat ditemui di kawasan komplek makam.

Ia juga menambahkan bahwa keberadaan Makam Sunan Gunung Jati memiliki keterkaitan erat dengan sejarah Kraton Kasepuhan Cirebon, mengingat Sunan Gunung Jati merupakan salah satu tokoh sentral dalam berdirinya peradaban Islam dan kerajaan di Cirebon.

“Sebagai keluarga kraton, kami melihat ziarah ini sebagai amanah budaya dan spiritual yang harus terus dijaga. Tidak hanya untuk masyarakat Cirebon, tetapi untuk seluruh umat Islam di Nusantara,” tambahnya.

Selain berdampak pada kehidupan spiritual masyarakat, ramainya peziarah juga membawa dampak ekonomi bagi warga sekitar. Sejumlah pedagang makanan, minuman, oleh-oleh religi, hingga jasa parkir dan transportasi lokal merasakan peningkatan pendapatan selama periode ramainya kunjungan ini.

Pihak pengelola kawasan makam bersama aparat keamanan terus melakukan pengawasan dan pengaturan arus peziarah agar tidak terjadi penumpukan berlebihan, terutama di area inti makam. Imbauan untuk menjaga kebersihan, ketertiban, dan adab ziarah juga terus disampaikan kepada para pengunjung.

Komplek Makam Sunan Gunung Jati sendiri dikenal sebagai salah satu destinasi wisata religi terbesar di Indonesia. Tokoh Wali Songo ini memiliki peran penting dalam penyebaran Islam secara damai dan berakhlak di wilayah Jawa Barat, Banten, hingga sekitarnya. Hingga kini, makam tersebut tetap menjadi simbol persatuan, spiritualitas, dan warisan sejarah Islam yang terus dijaga dan dihormati oleh berbagai lapisan masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *