banner 728x250

SPPG Turigede Tegaskan Komitmen Transparansi Pelaksanaan MBG Selama Ramadhan

Time.i-news.site/, BOJONEGORO 27/2/2026 – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Turigede menyampaikan klarifikasi resmi terkait skema anggaran dan mekanisme pendistribusian Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama bulan suci Ramadhan. Penjelasan ini disampaikan sebagai bentuk transparansi sekaligus respons atas dinamika harapan dan ekspektasi masyarakat terhadap pelaksanaan program tersebut.

 

Kepala SPPG Turigede, M. Rubal Arivianto, menuturkan bahwa besaran anggaran MBG telah ditetapkan sesuai kategori penerima manfaat. Untuk porsi kecil sebesar Rp8.000 diperuntukkan bagi Kelompok Bermain (KB), RA/TK, siswa kelas 1–3 SD/MI, serta balita. Sedangkan porsi besar sebesar Rp10.000 dialokasikan bagi siswa kelas 4–6 SD/MI, MTs/SMP, SMA, serta ibu hamil dan ibu menyusui.

 

“Pembagian ini mengacu pada pedoman teknis dan standar kebutuhan gizi masing-masing kelompok,” ujarnya.

 

Memasuki bulan Ramadhan, pola penyajian turut disesuaikan. Untuk kelompok pendidikan, menu disajikan dalam bentuk makanan kering dan didistribusikan setiap Senin hingga Jumat. Adapun menu yang direkomendasikan oleh Badan Gizi Nasional (BGN) antara lain telur rebus, abon, keju, buah, dan kurma — sebagaimana yang telah diterapkan oleh SPPG Turigede.

 

Sementara itu, bagi kelompok B3 yang meliputi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita, penyajian dilakukan dalam kombinasi menu basah dan kering dengan jadwal distribusi dua kali sepekan, yakni Senin dan Kamis. Dalam ketentuan teknis, penyedia layanan juga diperkenankan melakukan rapel menu maksimal tiga hari apabila diperlukan.

 

Rubal menegaskan bahwa seluruh proses pelaksanaan berpedoman pada petunjuk resmi dari BGN. Namun demikian, pihaknya menyadari adanya keberagaman preferensi di tengah masyarakat.

 

“Kami memahami bahwa setiap orang memiliki harapan yang berbeda. Karena itu, kami terus berupaya melakukan evaluasi dan pembenahan agar layanan semakin baik dan semakin memuaskan penerima manfaat,” tambahnya.

 

Ia juga mengimbau kepada kepala sekolah, PIC, serta kepala dan kader posyandu untuk turut menyampaikan informasi ini kepada wali murid dan penerima manfaat B3, agar tercipta pemahaman yang utuh dan tidak terjadi kesalahpahaman.

 

SPPG Turigede menilai, Kabupaten Bojonegoro patut bersyukur karena menjadi salah satu daerah yang lebih awal merasakan manfaat program MBG, dibandingkan sejumlah wilayah lain di luar Pulau Jawa yang hingga kini masih menanti implementasi.

 

Sebagai garda terdepan pelayanan pemenuhan gizi, SPPG Turigede menegaskan komitmennya untuk tetap terbuka terhadap masukan dari berbagai pihak. Transparansi, perbaikan berkelanjutan, dan pelayanan yang humanis menjadi prinsip utama dalam memastikan program MBG benar-benar memberikan dampak positif bagi masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *